Selasa, 05 Mei 2015

KILAS BALIK PROGRAM INDONESIA MALARIA CARE FOUNDATION (IMCF) 2012-2014

KILAS BALIK  PROGRAM INDONESIA MALARIA CARE FOUNDATION (IMCF) 2012-2014



           Kawasaan Timur Indonesia adalah “gudang” parasit malaria. Banyak kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh parasit malaria. Jenis parasit yang terkenal ganas di daerah ini adalah Plasmodium Falsiparum. Sudah banyak kematian maupun cedera otak yang disebabkan parasit ini dan tidak mengenal status manusia: tua-muda, bayi-dewasa, kaya-miskin, pejabat pemerintah  ,swasta, awam-tokoh agama, tenaga kesehatan, orang biasa, dan lain-lain..
        Sebetulnya Kementerian Kesehatan dengan bantuan Global Fund, sudah melakukan program pemberantasan malaria di daerah ini sejak lebih dari tiga tahun yang lalu. Tetapi nampaknya, pemberantasan malaria tidak bisa hanya dilakukan oleh Pemerintah saja, karena tidak efektif. Masalah transportasi, komunikasi, keterbelakangan pendidikan dan keterbatasan tenaga kesehatan, merupakan faktor penghambat untuk keberhasilan program pemberantasan malaria tersebut. Tanpa keterlibatan organisasi/lembaga non pemerintah (NGO /non-government organization) dan tanpa keterlibatan masyarakat, program pemberantasan malaria akan sulit dilaksanakan dan dengan demikian angka kegagalannya akan cukup tinggi.


          Indonesia Malaria Care Foundation (IMCF) dalam kurun waktu dua tahun terakhir telah cukup berhasil melaksanakan beberapa kegiatan yang dipusatkan di salah satu wilayah  Kabupaten Nagekeo yaitu Kecamatan Nangaroro. Di Kecamatan Nangaroro IMCF melayani 18 Desa 1 Kelurahan,  akan tetapi ada 4 Desa dan 1 kelurahan yang menjadi prioritas utama yaitu Desa Nataute, Woewutu, Wokodekororo dan Wokowoe serta Kelurahan Nangaroro, yang  dilayani secara aktif melalui kegiatan outreaching (pencarian pasien positif malaria di desa target). Pemanasan global dan curah hujan yang tak menentu berdampak pada siklus berkembang biaknya nyamuk menjadi semakin pendek dan bionomik berubah. Hal ini disebabkan karena kurang adanya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, serta belum ada kader untuk pemantau jentik (JUMANTIK).



pengambilan darah dan pengobatan bersama tim Puskesmas di woewutu


    Pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh 4 Tenaga Kesehatan (nakes) dan 1 tenaga pemberdayaan. Adapun tujuan dari Program IMCF adalah membantu masyarakat miskin penderita penyakit malaria untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, serta melahirkan  kesadaran baru  dalam masyarakat terutama masyarakat miskin akan pentingnya penataan lingkungan tempat tinggal dan pola tingkah laku agar terhindar dari penyakit malaria.



Tim pelaksana program malaria bersama kepala sekolah dan staf guru
Selama berlangsungnya program, IMCF berkolaborasi dengan Puskesmas terdekat. Area kerja IMCF adalah mengutamakan daerah-daerah yang endemis tinggi dan menengah yang dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Dari grafik 01. Adalah grafik sebaran kasus malaria per-desa tahun 2014 tertinggi terdapat didesa/kelurahan Nangaroro mencapai 47 kasus, Desa Nataute mencapai 29 kasus, Desa Wokodekororo mencapai 6 kasus, Desa Woewutu mencapai 5 kasus dan Desa Wokowoe 2 Kasus.

Berdasarkan grafik 02. Diatas dapat di ketahui sebaran kasus malaria di 4 desa se Kec. Nangaroro dengan fluktuasi sebaran per bulan. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa bulan Januari merupakan bulan dengan kasus tertinggi mencapai 18 kasus di Kelurahan Nangaroro.

Pengambilan darah secara darurat di desa Degalea bersama tim puskesmas

Aktivitas utama IMCF

     Adapun pelaksana program utama IMCF yaitu membentuk struktur anggota Community of Malaria Care (CMC) / Komunitas Peduli Malaria, dengan tujuan membantu pelaksana program untuk menjalankan program secara keseluruhan dan melanjutkan kegiatan pengawasan dan pengendalian malaria jika masa kerja pelaksana program telah usai. Kader malaria ini juga mempunyai tugas untuk memantau jentik yang ada di wilayah kerja mereka masing-masing. IMCF juga menyediakan Pelayanan Kesehatan yang berfungsi untuk mendiagnosa (pemeriksaan mikroskopis), dan pengobatan malaria yang menggunakan obat herbal. Sedangkan kegiatan program lainnya adalah penyuluhan, menerapkan Pola Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat dengan cara ; membersihkan lingkungan, menimbun tempat-tempat yang tergenang, mengerjakan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) di seputaran kamar mandi, kamar WC dan tempat cuci, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta monitoring pemakaian kelambu oleh Balita/Bumil dan kepemilikan kelambu oleh keluarga yang mendapatkan bantuan kelambu IMCF pada fase pertama. Untuk memonitoring ketaatan pemakaian kelambu, IMCF bersama tim Puskesmas mengadakan survei ketaatan pemakaian kelambu pada semua desa yang mendapatkannya.

Penyuluhan mengenai bahaya malaria dan PHBS di desa Woewutu

Medan yang harus dilalui untuk penyuluhan dan penemuan penderita malaria

Pembersihaan Lingkungan bersama masyarakat di Desa Nataute

Pengerjaan SPAL untuk mengatasi genangan air

Pengerjaan SPAL bersama masyarakat di Kel. Nangaroro


Bersama masyrakat waktu pembagian bactivec

       Selama dua tahun ini, IMCF bersama Puskesmas telah berhasil membagikan 1200 kelambu anti malaria kepada masyarakat di daerah endemis dan terpencil di Kecamatan Nangaroro. Selain itu, IMCF juga melaksanakan penjangkauan pasien malaria hingga ke pelosok daerah, melakukan promosi dan pengobatan bagi penderita positif malaria, juga menyelenggarakan penyuluhan rutin untuk masyarakat. Penyuluhan mengenai malaria tidak dilakukan hanya untuk orang dewasa saja, akan tetapi penyuluhan ini dilakukan untuk anak-anak usia sekolah, dengan tujuan agar mereka mengetahui lebih dini mengenai bahaya Malaria. Meski baru  berjalan selama dua tahun , dampak dari kegiatan ini menunjukkan bahwa ada tren penurunan kasus malaria. Akan tetapi masih terdapat desa-desa yang perlu dilayani, karena ditemukan kasus malaria (terutama daerah pesisir Pantai dan Persawahan).




Pose bersama setelah penyuluhan di SDK Wokodekororo


Genangan air yang menjadi tempat perindukan nyamuk Anopheles


Survei jentik Anopheles di Desa Nataute


Pembagian kelambu di Desa Nataute


Peragaan penggunaan kelambu

             Oleh karena itu penting adanya penemuan dan tatalaksana penderita seperti; peningkatan terhadap pemeriksaan ulang sediaan darah, meningkatkan kemampuan mikroskopis, memantau efikasi obat malaria, melakukan survei vektor dan analisis dinamika penularan untuk menentukan metode pengendalian vektor yang tepat, melakukan penyemprotan rumah (Indoor Residual Spraying) atau pengendalian vektor lain yang sesuai dengan lokasi potensial, serta memantau resistensi vektor. 
Berdasarkan survey tempat perindukan nyamuk (breeding place) yang dilakukan oleh Tim Project IMCF, dari 4 Desa yang menjadi tempat prioritas IMCF ditemukan hasil sebagai berikut:
Table 1. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Kel. Nangaroro



Nama Desa

Tempat perindukan

Keadaan perindukan

Jenis jentik

Kel. Nangaroro

Genangan SPAL

Terbuka

Anopheles, Culex



Genangan sawah

Terbuka

Anopheles, Culex



Muara

Terbuka tembus kelaut

Aedes, culex



Genangan Jalan & sungai

Terbuka

Anopheles, Culex



Bak Mandi & WC

Terbuka

Aedes

Drum

Terbuka

Aedes

Tabel 1. tersebut menyajikan berbagai jenis tempat perindukan yang ditemukan di Kel. Nangaroro, dengan sumber genangan utama yang berasal dari bantaran sungai yang melewati wilayah kelurahan tersebut menimbulkan banyak titik di temukan dalam survey tersebut. Dengan ketersediaan air dan luasan  yang optimal menjadikan daerah Kel. Nangaroro menjadi tempat strategi penularan Malaria.
Table 2. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Desa Nataute



Nama Desa

Tempat perindukan

Keadaan perindukan

Jenis jentik

Nataute

Sumur Gali

Terbuka

-



Genangan sawah

Terbuka

Anopheles, Culex



Muara

Terbuka tembus kelaut

Aedes, culex



Genangan Jalan & sungai

Terbuka

Culex, Anopheles



Bak Mandi & WC

Terbuka

Aedes



Drum

Terbuka

Aedes

Tabel 2. Menggambarkan beberapa jenis tempat perindukan yang ditemukan di Desa Nataute, secara geografis daerah tersebut sebagian berada di peisir pantai dan berbatasan dengan kecamatan Nangapanda dengan memiliki satu induk sungai yang mengalir tenang, serta ada beberapa tempat yang tergenang sehingga berpotensi untuk perindukan nyamuk.
Table 3. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Desa Wokodekororo


Tabel.4 diatas memberikan gambaran dinamika jenis tempat perindukan di Desa Wokodekororo dengan luas masing masing titik berbeda. Wilayah tersebut dilalui oleh 2 lembah yang mengapit di ke dua sudut desa dan menyediakan air di musim penghujan serta meninggalkan genangan di musim kemarau yang efektif untuk tempat perindukan nyamuk

Table 4. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Desa Woewutu



Nama Desa

Tempat perindukan

Keadaan perindukan

Jenis jentik

Woewutu

Genangan Bambu

Terbuka

Anopheles, Aedes



Genangan batok kelapa

Terbuka

Anopheles, Aedes



Bak kandang babi

Terbuka

Anopheles, Aedes, Culex



Bak mandi & WC

Terbuka

Aedes



Bak penampungan air

Terbuka

Aedes



Genangan sungai

Terbuka

Aedes, Anopheles, Culex

Tabel.4 tersebut diatas menggambarkan kondisi tempat perindukan di Desa Woewutu. Secara geografis wilayah desa tersebut berada di pinggiran pantai dengan satu induk sungai yang hanya mengalir di musim penghujan namun menyisahkan genangan di musim panas. Oleh karena itu Desa woewutu banyak ditemukan titik titik muara yang potensial menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.



Tantangan dan Harapan

     Keterlibatan dalam suatu program IMCF memberikan tantangan tersendiri bagi kita pelaksana program. Kegiatan yang kita lakukan seringkali tanpa menetapkan target pencapaian yang diinginkan atau asal kerja saja, karena harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat di lapangan, serta medan yang cukup sulit untuk dilalui. Partisipasi masyarakat dalam menyikapi kehadiran lembaga sangat baik namun perilaku proaktif masyarakat dalam melaksanakan program pengendalian perlu mendapat pengawasan yang serius secara struktural oleh setiap kepala pemerintahan wilayah Kecamatan Nangaroro, inilah beberapa hal yang menjadi tantangan untuk pelaksana program di lapangan.
Harapan pelaksana program adalah jika kita mau sukses menjalankan program pemberantasan malaria tersebut, maka marilah kita sama-sama melakukan perubahaan  dalam segala hal, baik persiapan data-data maupun perubahan sikap mental, oleh karena itu  marilah kita bersiap diri lebih baik kedepannya nanti untuk menghadapi tantangan, mengambil peluang, demi kesejahteraan masyarakat kita. Untuk mendukung terlaksananya program-program lanjutan pelaksana program berharap adanya penyediaan anggaran yang cukup agar dalam pelaksanaanya mendapatkan hasil yang optimal dan berkesinambungan. Karena seperti pepatah yang sering diucapakan oleh chairman bahwa’’ tidak ada yang tidak bisa dilakukan dan dikerjakan selama masih berada dibawah kolong langit ini.’’











                                                                                           Nangaroro, 25 Februari 2015


                                              Program Manager



                                                           YOHANA FRANCHYKA MECA






0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.