Kawasaan Timur Indonesia adalah “gudang” parasit
malaria. Banyak kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh parasit malaria.
Jenis parasit yang terkenal ganas di daerah ini adalah Plasmodium Falsiparum.
Sudah banyak kematian maupun cedera otak yang disebabkan parasit ini dan tidak
mengenal status manusia: tua-muda, bayi-dewasa, kaya-miskin, pejabat pemerintah
,swasta, awam-tokoh agama, tenaga
kesehatan, orang biasa,
dan lain-lain..
Sebetulnya Kementerian Kesehatan dengan bantuan Global Fund, sudah melakukan
program pemberantasan malaria di daerah ini sejak lebih dari tiga tahun yang
lalu. Tetapi nampaknya, pemberantasan malaria tidak bisa hanya dilakukan oleh
Pemerintah saja, karena tidak efektif. Masalah transportasi, komunikasi,
keterbelakangan pendidikan dan keterbatasan tenaga kesehatan, merupakan faktor
penghambat untuk keberhasilan program pemberantasan malaria tersebut. Tanpa
keterlibatan organisasi/lembaga non pemerintah (NGO /non-government
organization) dan tanpa keterlibatan masyarakat, program pemberantasan malaria
akan sulit dilaksanakan dan dengan demikian angka kegagalannya akan cukup
tinggi.
Indonesia Malaria Care Foundation (IMCF)
dalam kurun waktu dua tahun terakhir telah cukup berhasil melaksanakan beberapa
kegiatan yang dipusatkan di salah satu wilayah
Kabupaten Nagekeo yaitu Kecamatan Nangaroro. Di Kecamatan Nangaroro IMCF
melayani 18 Desa 1 Kelurahan, akan
tetapi ada 4 Desa dan 1 kelurahan yang menjadi prioritas utama yaitu Desa
Nataute, Woewutu, Wokodekororo dan Wokowoe serta Kelurahan Nangaroro, yang dilayani secara aktif melalui
kegiatan outreaching (pencarian pasien positif malaria di desa target). Pemanasan global dan curah hujan yang tak menentu berdampak pada siklus
berkembang biaknya nyamuk menjadi semakin pendek dan bionomik berubah. Hal ini
disebabkan karena kurang adanya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap
kebersihan lingkungan, serta belum ada kader untuk pemantau jentik (JUMANTIK).
pengambilan
darah dan pengobatan bersama tim Puskesmas di woewutu
Pelaksanaan
kegiatan ini didukung oleh 4 Tenaga Kesehatan (nakes) dan 1 tenaga
pemberdayaan. Adapun tujuan dari Program IMCF adalah membantu masyarakat miskin
penderita penyakit malaria untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai,
serta melahirkan kesadaran baru dalam masyarakat terutama masyarakat miskin
akan pentingnya penataan lingkungan tempat tinggal dan pola tingkah laku agar terhindar
dari penyakit malaria.
Tim pelaksana program
malaria bersama kepala sekolah dan staf guru
Selama
berlangsungnya program, IMCF berkolaborasi dengan Puskesmas terdekat. Area
kerja IMCF adalah mengutamakan daerah-daerah yang endemis tinggi dan menengah yang dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Dari grafik 01. Adalah grafik sebaran kasus malaria per-desa tahun 2014 tertinggi terdapat didesa/kelurahan Nangaroro mencapai 47 kasus, Desa Nataute mencapai 29 kasus, Desa Wokodekororo mencapai 6 kasus, Desa Woewutu mencapai 5 kasus dan Desa Wokowoe 2 Kasus.
Berdasarkan
grafik 02. Diatas dapat di ketahui sebaran kasus malaria di 4 desa se Kec.
Nangaroro dengan fluktuasi sebaran per bulan. Dari hasil tersebut dapat
diketahui bahwa bulan Januari
merupakan
bulan dengan kasus tertinggi mencapai 18 kasus di Kelurahan Nangaroro.
Pengambilan darah
secara darurat di desa Degalea bersama tim puskesmas
Aktivitas utama IMCF
Adapun
pelaksana program utama IMCF yaitu membentuk struktur anggota Community of
Malaria Care (CMC) / Komunitas Peduli Malaria, dengan tujuan
membantu pelaksana program untuk menjalankan program secara keseluruhan dan
melanjutkan kegiatan pengawasan dan pengendalian malaria jika masa kerja
pelaksana program telah usai. Kader
malaria ini juga mempunyai tugas untuk memantau jentik yang ada di wilayah
kerja mereka masing-masing. IMCF juga menyediakan Pelayanan
Kesehatan yang berfungsi untuk mendiagnosa (pemeriksaan mikroskopis), dan pengobatan
malaria yang menggunakan obat herbal. Sedangkan kegiatan program lainnya adalah
penyuluhan, menerapkan Pola Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada
masyarakat dengan cara ; membersihkan lingkungan, menimbun tempat-tempat yang
tergenang, mengerjakan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) di seputaran kamar
mandi, kamar WC dan tempat cuci, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta monitoring
pemakaian kelambu oleh Balita/Bumil dan kepemilikan kelambu oleh keluarga yang
mendapatkan bantuan kelambu IMCF pada fase pertama. Untuk memonitoring ketaatan
pemakaian kelambu, IMCF bersama tim Puskesmas mengadakan survei ketaatan
pemakaian kelambu pada semua desa yang mendapatkannya.
Penyuluhan
mengenai bahaya malaria dan PHBS di desa Woewutu
Medan yang
harus dilalui untuk penyuluhan dan penemuan penderita malaria
Pembersihaan
Lingkungan bersama masyarakat di Desa Nataute
Pengerjaan
SPAL untuk mengatasi genangan air
Pengerjaan
SPAL bersama masyarakat di Kel. Nangaroro
Bersama
masyrakat waktu pembagian bactivec
Selama dua tahun ini, IMCF bersama Puskesmas telah
berhasil membagikan 1200 kelambu
anti malaria kepada masyarakat di daerah endemis dan terpencil di Kecamatan
Nangaroro. Selain itu, IMCF juga melaksanakan penjangkauan pasien malaria
hingga ke pelosok daerah, melakukan promosi dan pengobatan bagi penderita
positif malaria, juga menyelenggarakan penyuluhan rutin untuk masyarakat. Penyuluhan
mengenai malaria tidak dilakukan hanya untuk orang dewasa saja, akan tetapi
penyuluhan ini dilakukan untuk anak-anak usia sekolah, dengan tujuan agar
mereka mengetahui lebih dini mengenai bahaya
Malaria. Meski baru berjalan selama dua
tahun , dampak dari kegiatan ini menunjukkan bahwa ada tren penurunan kasus
malaria. Akan tetapi masih terdapat desa-desa yang perlu dilayani, karena
ditemukan kasus malaria (terutama daerah pesisir Pantai dan Persawahan).
Pose bersama setelah penyuluhan di SDK Wokodekororo
Genangan air yang menjadi tempat perindukan nyamuk
Anopheles
Survei jentik Anopheles di Desa Nataute
Pembagian kelambu di Desa Nataute
Peragaan penggunaan kelambu
Oleh karena itu
penting adanya penemuan dan tatalaksana penderita seperti; peningkatan terhadap
pemeriksaan ulang sediaan darah, meningkatkan kemampuan mikroskopis, memantau
efikasi obat malaria, melakukan survei vektor dan analisis dinamika penularan
untuk menentukan metode pengendalian vektor yang tepat, melakukan penyemprotan
rumah (Indoor Residual Spraying) atau pengendalian vektor lain yang sesuai
dengan lokasi potensial, serta memantau resistensi vektor.
Berdasarkan survey tempat perindukan nyamuk (breeding place) yang dilakukan
oleh Tim Project IMCF, dari 4 Desa yang menjadi tempat prioritas IMCF ditemukan
hasil sebagai berikut:
Table 1. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Kel.
Nangaroro|
Nama Desa |
Tempat perindukan |
Keadaan perindukan |
Jenis jentik |
|
Kel. Nangaroro |
Genangan SPAL |
Terbuka |
Anopheles, Culex |
|
|
Genangan sawah |
Terbuka |
Anopheles, Culex |
|
|
Muara |
Terbuka tembus kelaut |
Aedes, culex |
|
|
Genangan Jalan & sungai |
Terbuka |
Anopheles, Culex |
|
|
Bak Mandi & WC |
Terbuka |
Aedes |
|
Drum |
Terbuka |
Aedes |
Tabel 1. tersebut menyajikan
berbagai jenis tempat perindukan yang ditemukan di Kel. Nangaroro, dengan sumber genangan utama yang
berasal dari bantaran sungai yang melewati wilayah kelurahan tersebut
menimbulkan banyak titik di temukan dalam survey tersebut. Dengan ketersediaan
air dan luasan yang optimal menjadikan
daerah Kel. Nangaroro menjadi tempat strategi penularan Malaria.
Table 2. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Desa
Nataute
|
Nama Desa |
Tempat perindukan |
Keadaan perindukan |
Jenis jentik |
|
Nataute |
Sumur Gali |
Terbuka |
- |
|
|
Genangan sawah |
Terbuka |
Anopheles, Culex |
|
|
Muara |
Terbuka tembus kelaut |
Aedes, culex |
|
|
Genangan Jalan & sungai |
Terbuka |
Culex, Anopheles |
|
|
Bak Mandi & WC |
Terbuka |
Aedes |
|
|
Drum |
Terbuka |
Aedes |
Tabel 2. Menggambarkan beberapa jenis tempat perindukan yang ditemukan di
Desa Nataute, secara geografis daerah tersebut sebagian berada di peisir pantai
dan berbatasan dengan kecamatan Nangapanda dengan memiliki satu induk sungai
yang mengalir tenang, serta ada beberapa tempat yang tergenang sehingga
berpotensi untuk perindukan nyamuk.
Table 3. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Desa
Wokodekororo
Tabel.4 diatas memberikan gambaran
dinamika jenis tempat perindukan di Desa Wokodekororo dengan luas masing masing
titik berbeda. Wilayah tersebut dilalui oleh 2 lembah yang mengapit di ke dua
sudut desa dan menyediakan air di musim penghujan serta meninggalkan genangan
di musim kemarau yang efektif untuk tempat perindukan nyamuk
Table 4. tempat perindukan,keadaan perindukan serta jenis jentik di Desa Woewutu
|
Nama Desa |
Tempat perindukan |
Keadaan perindukan |
Jenis jentik |
|
Woewutu |
Genangan Bambu |
Terbuka |
Anopheles, Aedes |
|
|
Genangan batok kelapa |
Terbuka |
Anopheles, Aedes |
|
|
Bak kandang babi |
Terbuka |
Anopheles, Aedes, Culex |
|
|
Bak mandi & WC |
Terbuka |
Aedes |
|
|
Bak penampungan air |
Terbuka |
Aedes |
|
|
Genangan sungai |
Terbuka |
Aedes, Anopheles, Culex |
Tabel.4 tersebut diatas menggambarkan
kondisi tempat perindukan di Desa Woewutu. Secara geografis wilayah desa
tersebut berada di pinggiran pantai dengan satu induk sungai yang hanya
mengalir di musim penghujan namun menyisahkan genangan di musim panas. Oleh karena
itu Desa woewutu banyak ditemukan titik titik muara yang potensial menjadi
tempat perkembangbiakan nyamuk.
Tantangan dan Harapan
Keterlibatan
dalam suatu program IMCF memberikan tantangan tersendiri bagi kita pelaksana
program. Kegiatan yang kita lakukan seringkali tanpa menetapkan target
pencapaian yang diinginkan atau asal kerja saja, karena harus disesuaikan
dengan kondisi masyarakat di lapangan, serta medan yang cukup sulit untuk
dilalui. Partisipasi masyarakat dalam menyikapi kehadiran lembaga sangat baik
namun perilaku proaktif masyarakat dalam melaksanakan program pengendalian
perlu mendapat pengawasan yang serius secara struktural oleh setiap kepala
pemerintahan wilayah Kecamatan Nangaroro, inilah beberapa hal yang menjadi
tantangan untuk pelaksana program di lapangan.
Harapan
pelaksana program adalah jika kita mau sukses menjalankan program pemberantasan
malaria tersebut, maka marilah kita sama-sama melakukan perubahaan dalam segala hal, baik persiapan data-data
maupun perubahan sikap mental, oleh karena itu
marilah kita bersiap diri lebih baik kedepannya nanti untuk menghadapi
tantangan, mengambil peluang, demi kesejahteraan masyarakat kita. Untuk
mendukung terlaksananya program-program lanjutan pelaksana program berharap
adanya penyediaan anggaran yang cukup agar dalam pelaksanaanya mendapatkan
hasil yang optimal dan berkesinambungan. Karena seperti pepatah yang sering
diucapakan oleh chairman bahwa’’ tidak
ada yang tidak bisa dilakukan dan dikerjakan selama masih berada dibawah kolong
langit ini.’’
Nangaroro, 25 Februari 2015
Program Manager
YOHANA FRANCHYKA MECA



















0 komentar:
Posting Komentar