Rabu, 06 Mei 2015

Refleksi Hasil Projet Pengendalian Malaria Tahun 2011-2015

REFLEKSI HASIL
PROJECT PENGENDALIAN MALARIA
TAHUN 2011 - 2015
DI
 KECAMATAN NANGARORO


PROFIL  LEMBAGA
 *INDONESIA MALARIA CARE FOUNDATION (IMCF)*

Indonesia Malaria Care Foundation(IMCF) adalah sebuah lembaga Organisasi Non Profit yang memilik kepedulian pada masalah pencegahan dan pengawasan penyakit malaria di Indonesia pada umumnya. Sebagai salah satu lembaga sosial IMCF memberikan perhatian khusus pada masyarakat miskin penderita penyakit malaria dengan upaya – upaya pencegahannya.
IMCF membidangi kegiatan Riset & Pengendalian, Advokasi, Sosialisasi, Pengembangan Kapasitas dan Partisipasi Masyarakat dalam melakukan pencegahan dan pengawasan terhadap penyakit malaria di seluruh Indonesia.
IMCF merupakan lembaga sosial yang keberadaannya bersifat nirlaba dan independen            :
Nama Lembaga        : INDONESIA MALARIA CARE FOUNDATION
                                      (YAYASAN PEDULI MALARIA INDONESIA)
Izin Usaha                 :
1.       Akte Pendirian         : 20 Tgl 15 Agustus 2008
2.      No. Badan Hukum  : C-22576HT01.01.2004
3.      Surat Domisili         : 170/1.824/08
4.      Rekening Bank        : 124-0005181152 (BANK MANDIRI)
Alamat                       : Jl. Sawah Lunto No. 73 Pasar Manggis – Minangkabau JAKARTA                                                  SELATAN 12970 Tlp. : (021) 8309014; Fax : (021) 83708789
Visi     : Keberpihakan terhadap masyarakat (miskin) penderita  penyakit malaria serta                          terciptanya kesadaran publik(public awaraness) akan pentingnya pencegahan                 dan pengawasan terhadap penyakit malaria untuk mencapai masyarakat yang                        sehat dan sejahtera sebagai aset pembangunan.
Misi    :
J Mendorong lahirnya gerakan dan partisipasi masyarakat (publik) untuk meringankan beban masyarakat (miskin) penderita penyakit malaria.
J Mendorong partisipasi masyarakat (publik) untuk peduli terhadap pencegahan dan pengawasan penyakit malaria melalui penataan lingkungan, tempat tinggal dan pola tingkah laku (sehat) untuk mencapai masyarakat yang sehat dan sejahtera.
Kepengurusan project        :
1.       Direktur                    : Kanisius Kami
2.      Manager Program   : Fransiska Meca,Amd.AK
3.      Supervisor Program            : Benediktus X. Weto,Amd.KL
4.      Laboratorium          : Kasimirus N. Liu,Amd.AK
5.      Humas                       : Jordanius Dando,S.Sos
6.      Fasilitator                 : Frederikus Ndari,S.KM
Indonesia Malaria Care Foundation (IMCF) dalam perjalanan refleksinya telah menginjak tahun ke 7 sejak berdirinya tahun 2008. Proyek proyek peningkatan dan pembangunan di bidang penyakit malaria telah banyak dilakukan di berbagai tempat (Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) untuk mencapai visi penekanan angka kejadian penyakit malaria.

A.                Latar Belakang
            Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembangbiak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina (Departemen Kesehatan RI, 2006, h.3).
            Malaria ditemukan hampir  pada sebagian negara yang beriklim tropis dan sub tropis dan diperkirakan sekitar 300 juta sampai 500 juta penderita malaria dengan kematian berkisar antara 750.000 hingga 2 juta jiwa setiap tahun (Gunawan, 2000 dalam Sutatik, 2007). Pada tahun 1997, dari 17,31 juta kematian penduduk akibat penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit parasitik, sekurang-kurangnya 1,5-2,7 juta orang meninggal karena penyakit malaria, terutama kelompok anak-anak umur bawah lima tahun (balita) di Afrika (Gunawan, 2000 dalam Afridah, 2009).
            Dalam rangka pengendalian penyakit malaria banyak hal yang sudah maupun sedang dilakukan baik dalam skala global maupun nasional. Malaria merupakan salah satu indikator dari target Pembangunan Milenium (MDGs), dimana ditargetkan untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi kejadian insiden malaria pada tahun 2015 yang dilihat dari indikator menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat malaria. Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030(Buletin malaria 2011).
            Upaya penanggulangan penyakit malaria di Indonesia sejak tahun 2007 dapat dipantau dengan menggunakan indikator Annual Parasite Incidence (API). Hal ini sehubungan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan mengenai penggunaan satu indikator untuk mengukur angka kejadian malaria, yaitu dengan API. Pada tahun 2007 kebijakan ini mensyaratkan bahwa setiap kasus malaria harus dibuktikan dengan hasil pemeriksaan sediaan darah dan semua kasus positif harus diobati dengan pengobatan kombinasi berbasis artemisinin atau ACT (Artemisinin-based Combination Therapies).
            Penyakit malaria masih ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia. Berdasarkan API, dilakukan stratifikasi wilayah dimana Indonesia bagian Timur masuk dalam stratifikasi malaria tinggi, stratifikasi sedang di beberapa wilayah di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera sedangkan di Jawa-Bali masuk dalam stratifikasi rendah, meskipun masih terdapat desa/fokus malaria tinggi.            API dari tahun 2008 – 2009 menurun dari 2,47 per 1000 penduduk menjadi 1,85 per 1000 penduduk. Bila dilihat per provinsi dari tahun 2008 – 2009 provinsi dengan API yang tertinggi adalah Papua Barat, NTT dan Papua(buletin malaria, 2011).
            Tahun 2006 sampai 2008 NTT merupakan salah satu propinsi dengan kasus malaria cukup tinggi di Indonesia. Hal itu dapat dilihat pada grafik statistik malaria klinis di bawah ini          :





Kabupaten Nagekeo yang juga adalah salah satu wilayah yang berada di Propinsi NTT dengan kasus malaria cukup tinggi. Tercatat tahun 2011 di Kabupaten Negekeo diketahui kasus klinis sebanyak 642 kasus dengan jumlah positif kasus mencapai 83 kasus positif malaria(data Dinkes januari – oktober 2011).




Nangaroro adalah salah satu Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Nagekeo, Propinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya di pulau Flores. Hampir keseluruhan wilayah di Kecamatan Nangaroro merupakan daerah perbukitan dan hanya sekitar 10% daerah persawahan (datar).
            Cuaca di Kecamatan Nangaroro sangat bervariasi. Untuk beberapa tempat di daerah pesisir pantai sampai 250 meter di atas permukaan laut bersuhu panas. Sedangkan di daerah pegunungan cukup dingin seperti di Desa Kotakeo.
            Kecamatan Nangaroro dihuni oleh sekitar 20.120 orang penduduk dengan total penduduk pria sebanyak 9.707 orang, sementara wanita sebanyak 10.413 orang. Total Kepala Rumah Tangga (KK) Kecamatan Nangaroro sebanyak 3.602 KK (data kependudukan 2009).
            Kecamatan Nangaroro terdiri dari 1 Kelurahan dan 18 Desa. Sekitar 98% penduduknya adalah petani dengan penghasilan sangat rendah. Sementara, sekitar 2% adalah pedagang dan pegawai negeri.
            Kecamatan Nangaroro hanya memiliki satu Pusat Kesehatan Masyarakat berjarak sekitar 25 Km dari desa terluar. Sedangkan pembangunan infrastruktur saat ini telah sampai pada peningkatan dan pendekatan pelayanan kesehatan dengan pembangunan Pustu/Poskesdes di masing masing desa dengan satu atau dua orang tenaga medis untuk melayani kesehatan dasar masyarakat.
            Kecamatan Nangaroro merupakan daerah dengan tingkat morbiditas (kesakitan) malaria tertinggi yakni sebanyak 4.060 orang (data tahun 2008). Rekap data ini diambil dari kunjungan penderita malaria ke Puskesmas dan Pustu/Poskesdes.
            Kondisi sumberdaya manusia, geografis, ekonomi sosial dan budaya di Kecamatan Nangaroro yang sangat tinggi mempengaruhi tingkat kejadian malaria di wilayah itu menjadi dasar lembaga Indonesia Malaria Care Foundation(IMCF) pada tahun 2011 menetapkan Kecamatan Nangaroro sebagai program project dalam upaya partisipatif bersama masyarakat Nangaroro membangun kesadaran dan aksi untuk melawan penyakit malaria.

A.                PELAKSANAAN PROJECT DI KECAMATAN NANGARORO TAHUN        2011 – 2014
1.1.           Design Kegiatan Awal Project Matigasi di Kecamatan Nangaroro Tahun 2011 - 2014
            Aktivitas utama Program Pilot Project Intensifikasi Mitigasi Malaria Berbasis Partisipasi Masyarakat dilakukan dalam 9 tahapan yaitu   :
1.                  Pembentukan struktur anggota community of malaria care           (komunitas peduli             malaria) Kecamatan Nangaroro.
            Anggota komunitas ini merupakan perwakilan dari masing masing desa dengan jumlah minimal 2 orang perwakilan.
Tujuan           :
©      Membantu pelaksana program untuk menjalankan program secara keseluruhan.
©      Melanjutkan kegiatan pengawasan dan pengendalian malaria jika masa kerja pelaksana program telah usai.
Hasil               :
©      Terbentuknya kaderisasi petugas pengawasan dan pengendalian malaria tingkat desa.
©      Adanya keberlangsungan pengawasan dan pengendalian malaria meskipun masa kerja pilot project telah selesai.

2.                 Intensifikasi surveilans dan penemuan penderita malaria (buku            pedoman             surveilans malaria dan penemuan penderita malaria).
Surveilans malaria adalah kegiatan yang terus menerus, teratur dan sistematis dalam pengumpulan, pengelolaan, analisis dan interpretasi data malaria untuk menghasilkan informasi yang akurat yang dapat disebarluaskan dan digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat disesuaikan dengan kondisi setempat.
Penemuan Penderita (case detection) adalah kegiatan rutin maupun khusus dalam pencarian penderita malaria berdasarkan gejala klinis dan gejala khas daerah setempat melalui pengambilan specimen darah dan pemeriksaan lainnya.
Jenis – jenis kegiatan yang akan dilakukan antara lain          :
ü  Malariometric Survey(MS) dengan tujuan pemetaan penderita Hight Case Incidence(HCI), Middle Case Incidence(MCI) dan Low Case Incidence(LCI). Pengambilan specimen darah dilakukan menggunakan RDT (Rapid Diagnostic Test).
ü   Passive Case Detection(PCD)
ü  Active Case Detection(ACD)
3.                 Intensifikasi advokasi malaria.
Advokasi merupakan langkah awal sebelum pelaksanaan Program Pilot Project Intensifikasi Mitigasi Malaria Berbasis Partisipasi Masyarakat. Untuk menyukseskan program ini dilakukan pendekatan secara structural dan lintas sektoral dalam bentuk – bentuk kegiatan sebagai berikut :
ü  Audensi dan Dialog dengan Bupati Nagekeo
ü  Audensi dan Dialog dengan Anggota DPRD Nagekeo
ü  Audensi dan Dialog dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo
ü  Audensi dan Dialog dengan Dinas-Dinas terkait di Kabupaten Nagekeo
ü  Audensi dan Dialog dengan Semua Kepala Desa di Kecamatan Nangaroro
ü Audensi dan Dialog dengan Para Pemuka Masyarakat dan Tokoh Agama Kecamatan Nangaroro.
Tujuan kegiatan – kegiatan tersebut adalah tercapainya koordinasi dan sosialisasi tentang rencana program yang mampu melibatkan semua unsur masyarakat baik pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat sehingga hasil yang dicapai yakni dukungan sepenuh – penuhnya dari semua pihak.
4.                 Intensifikasi promosi “gebrak malaria” (panduan buku pedoman          promosi gebrak          malaria)
Promosi “Gebrak Malaria” merupakan upaya memberdayakan seluruh komponen masyarakat dalam memberantas malaria melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dalam lingkungan yang terbebas dari penularan malaria.
Gebrak Malaria merupakan program kesehatan masyarakat dengan komitmen politik dari hasil kerjasama berbagai sector di dalam maupun di luar pemerintahan termasuk masyarakat untuk berperan aktif mewujudkan lingkungan yang terbebas dari penularana malaria.
Umumnya kegiatan kegiatan promosi dalam Gebrak Malaria ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menghindari diri dari perilaku dan lingkungan yang mendukung terjadinya penularan penyakit malaria. Kegiatan Promosi Gebrak Malaria dilakukan dengan beberapa metode antara lain sebagai berikut         :
ü  Promosi Luar Ruangan (Spanduk dan Billbord Gebrak Malaria di semua desa sasaran).
ü  Promosi Dalam Ruangan (Penyebaran Stiker, mini striker dan brochure malaria di tempat tempat umum dan rumah rumah penduduk sasaran program malaria.
ü  Promosi Media (Live Takkshow Malariadi RRI, penulisan artikel di surat kabar, dan iklan radio tentang malaria.
ü  Promosi Peringatan Hari Malaria Sedunia(HMS 25 April))
5.                 Intensifikasi penyuluhan atau sosialisasi pemberantasan malaria dan             tatalaksana hidup sehat.
Kegiatan yang dilakukan dalam hal intensifikasi penyuluhan dan sosialisasi pemberantasan malaria antara lain sebagai berikut            :
ü  Works Shop Training for Trainer bagi anggota komunitas peduli malaria.
ü  Mengaktifkan posyandu di tingkat desa dan penyuluhan malaria bagi ibu hamil dan melahirkan.
ü  Melakukan sosialisasi PHBS di desa-desa untuk pencegahan malaria difasilitasi oleh Kepala Desa.
ü  Kunjungan rutin ke kampung-kampung/dusun dengan melibatkan kepada kampung/dusun.
ü  Penyuluhan ke sekolah – sekolah.
ü  Mengadakan perlombaan dengan tema Malaria.

6.                 Intensifikasi pelatihan malaria (pengembangan kapasitas)-(pedoman            modul pelatihan malaria).
Kegiatan pelatihan malaria dilakukan sebagai upaya peningkatan performance tanga kesehatan baik secara individual atau organisasi dalam melaksanakan pekerjaannya ditempat tugasnya.
Sasaran pelatihan adalah anggota CMC, JMD, Bidan Desa, dan Petugas Kesehatan di Puskesmas Nangaroro. Pengembangan kapasitas ini dilakukan secara intensif dalam bentuk :
ü  Pelatihan Pengendalian Vektor
ü  Pelatihan Program Malaria Bagi Sukarelawan Malaria Desa.
Hal yang ingin dicapai dari kegiatan pelatihan tersebut adalah berjalannya program sesuai rencana dan adanya keseragaman proses pelaksanaan program dari tahap persiapan hingga tahap evaluasi dan monitoring program.
7.                 Intensifikasi pengendalian vektor (panduan buku pedoman         pemberantasan             vektor).
Pengendalian vektor merupakan salah satu kegiatan utama dalam program pemberantasan penyakit malaria agar dapat memutuskan mata rantai penularannya. Kegiatan ini dilakukan atas dasar pertimbangan REESAA      :
ü  Rational         : disesuaikan dengan lokasi pelaksanaan
ü  Efektifitas      : metode yang digunakan harus efektif dengan sasaran.
ü  Efisien            : pemilihan metode dengan mempertimbangkan biaya yang paling murah.
ü  Sustainable   : metode yang dilakukan dapat diulangi dan dilanjutkan secara berkesinambungan sampai pada tingkat penularan paling rendah dan biaya paling murah.
ü  Acceptable     : Metode yang digunakan dapat diterima masyarakat dan masyarakat dapat berperan aktif.
ü  Affordable     : metode yang digunakan harus mudah dijangkau baik dari sisi transportasi dan keperluan logistic.
Kegiatan pengendalian vektor antara lain         :
ü  Indoor Residual Spraying(IRS)
ü  Penggunaan dan pendistribusian kelambu berinsektisida
ü  Penyemprotan lagun
ü  Larvasida
ü  Penebaran ikan pemakan jentik(pengendalian hayati)
ü  Pengelolaan lingkungan
8.                Intensifikasi partisipasi dan pemberdayaan masyarakat
Setiap tahapan program akan melibatkan masyarakat setempat, bentuk bentuk kegiatan partisipasi antara lain    :
ü  Bakti sosial desa untuk pengendalian vektor
ü  Pembersihan lingkungan rumah
ü  Pembersihan dan penyemprotan lagun
ü  Penyemprotan rumah
ü  Pemasangan kelambu bersama
Hasil yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut adalah tumbuhnya budaya dan sikap masyarakat Nangaroro yang peduli terhadap bahaya malaria.
9.                 Pengadaan dan pendistribusian sarana dan prasarana pengendalian malaria.
Rencana kegiatan- kegiatan tersebut diatas dapat berjalan dengan baik jika didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti  :
ü  Pengadaan dan pendistribusian kelambu
ü  Pengandaan RDT
ü  Pengadaan Microskop
ü  Pengadaan alat penyemprotan rumah dan obat-obatannya
ü  Pengadaan alat penyemprotan lagun(mist blower) dan obat-obatannya.
ü  Pengadaan obat-obatan malaria
   
   Pelaksanaan Kegiatan Project Intensifikasi Di Kecamatan Nangaroro Tahun 2011 – 2014
Jenis-jenis kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Indonesia Malaria Care Foundation (IMCF) Nangaroro
J  Sosialisasi pertama dengan  Camat, Kepala Desa,Dusun,RT  tentang pengenalan lembaga
J  Pengambilan data (Profil desa,Geografi,Demografi,dll)
J  Sosialisasi
·         Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
·         Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
·         Malaria
·         Sosialisasi Tanaman Pengusir Nyamuk
·         Pembentukan Community Malaria Care (CMC)
J  Pelacakan Kasus Malaria
J  Pengerjaan SPAL dan Pembersihan Lingkungan
J  Roll Back To School
J  Pembagian Bactivecd
J  Pembagian Kelambu
J  Fogging
J  Indoor Residual Sprying (IRS)
J  Belajar 2 Jam
B.                DINAMIKA FLUKTUASI ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) DAN                ANNUAL BLOOD EXEMINATION RATE (ABER) DI KABUPATEN       NAGEKEO  TAHUN 2012 – 2014
            Kabupaten Nagekeo yang merupakan salah satu kabupaten dengan tingkat fluktuasi dan sebaran kasus malaria yang terjadi setiap tahun cukup tinggi, secara umum telah mengalami penurunan angka kasakitan yang dinyatakan dalam API selama kurang lebih 3 tahun terakhir sejak tahun 2012 sampai tahun 2014. Hal itu tidak dapat dijadikan dasar pokok bahwa wilayah tersebut telah bebas dari penyebaran penyakit malaria, hal itu ditandai dengan munculnya beberapa kecamatan baru yang mengalami peningkatan kasus yang cukup signifikan dan dipengaruhi oleh kecilnya upaya pelacakan kasus malaria melalui pelacakan aktif pada waktu yang sama melalui kegiatan yang harusnya dapat dilakukan lebih efisien seperti Mass Blood Survey(MBS) dan Malariometric Survey(MS).
            Dinamika dan fluktuasi sebaran kasus malaria di kabupaten, kecamatan dan desa di Nagekeo dapat diamati dengan jelas melalui grafik dan tabel sebagai berikut:





Grafik distribusi kasus malaria berdasarkan API di atas menunjukkan bahwa Kabupaten Nagekeo mengalami penurunan kasus yang cukup tinggi sejak tahun 2012 dari API 24.1 0/00 hingga 5.60/00 di tahun 2014. Hal itu tidak dapat di jadikan dasar utama karena upaya pelacakan kasus positif yang dipastikan melalui pemeriksaan mikroskop yang di nyatakan dengan ABER juga mengalami penurunan persentasi selama 3 tahun. Pada tahun 2012 ABER 11.74% menentukan penemuan API 24.1 0/00 , tahun 2013 ABER yang dilakukan di Kabupaten tersebut menurun 9.31% dengan penemuan kasus positif API 20.970/00 , sedangkan tahun 2014 ABER  hanya mencapai 9,52% dengan penemuan kasus positif di tahun tersebut hanya sebesar 5.60/0





Penentuan tingkat endemisitas malaria di suatu wilayah digolongkan dalam 3 resiko penularan yaitu High Case Incidence(HCI) dimana API >50/00 , Midle Case Incidence(MCI) 10/0 - 50/0, Low Case Incidence(LCI) <10/0
            Berdasarkan sebaran kasus malaria per wilayah yang berada di Kabupaten Nagekeo selama 3 tahun terakhir diketahui terjadi dinamika fluktuasi peningkatan kasus yang cukup tinggi di beberapa kecamatan di tahun 2014. Kecamatan Mauponggo 2014 API mencapai puncak peningkatan yang sangat tinggi mencapai 17.460/00 dengan kesenjangan yang cukup jauh di bandingkan tahun sebelumnya dimana API hanya mencapai 12.810/00. Hal tersebut juga terjadi di Kecamatan Danga, Boawae, Maunori yang merupakan daerah dengan resiko penularan malaria tinggi (HCI:High Case Incidence).
            Kecamatan Nangaroro, Maunori dan Kaburea hingga tahun 2014 merupakan daerah dengan resiko penularan sedang (MCI : Midle Case Incidence) karena API di wilayah tersebut berkisar antara 10/00 - 50/00. Hanya 1 kecamatan dengan tingkat resiko penularan malaria rendah yaitu Kecamatan Jawakisa dimana API di bawah 1% per seribu penduduk sejak tahun 2012 – tahun 2013.


Distribusi sebaran kasus malaria perbulan sejak tahun 2012 sampai tahun 2014 di Kabupaten Nagekeo menggambarkan pola peningkatan penularan kasus malaria di wilayah tersebut. Grafik diatas menunjukkan bahwa sebaran kasus malaria tertinggi terjadi pada bulan januari dan menurun di bulan juli sampai desember tahun 2014, sedangkan tahun 2013 kasus hanya meningkat di awal tahun bulan januari dan kembali meningkat di bulan desember pada tahun yang sama. Tahun 2012 kasus malaria terjadi hampir  setiap bulan meskipun menunjukkan penurunan dan peningkatan kasus positif.



Tabel distibusi kasus malaria berdasarkan status endemisitas menggambarkan kondisi wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Nagekeo selama 3 tahun terakhir. Maunori adalah salah satu kecamatan dengan tingkat endemisitas malaria tinggi, dalam 3 tahun sejak tahun 2012 – 2014 kecamatan tersebut berada pada status High Case Incidence (HCI). Kecamatan yang merupakan kecamatan dengan resiko malaria tinggi yang baru mengalami perubahan status malaria adalah kecamatan Mauponggo, Bo’awae, dan Danga. Kecamatan – kecamatan tersebut mengalami peningkatan kasus yang cukup tinggi di tahun 2014. Kecamatan Jawakisa adalah satu satunya kecamatan yang berada pada status Low Case Incidence(LCI).

 

Kecamatan Nangaroro berdasarkan grafik perbandingan API dan ABER tahun 2012 – 2014 menunjukkan bahwa Tahun 2012 sampai tahun 2014 terjadi peningkatan kasus yang ditunjukkan oleh meningkatnya persentase API dari 1,27 di tahun 2012 mencapai 4,52 di tahun 2014. Tingkat kebenaran perhitungan angka kesakitan tentunya juga di pengaruhi oleh ABER sebagai salah satu indikator tolak ukur terhadap hasil perhitungan API. Diketahui bahwa tahun 2012 ABER mencapai 13,42 namun turun di tahun 2013 hanya mencapai 1,6 dan meningkat lagi di tahun 2014 sebesar 10,8. Hal ini menjadi alasan mengapa di tahun 2013 kasus di kecamatan tersebut begitu rendah, karena rendah nya pelacakan dan pencarian kasus aktif yang dilakukan oleh petugas kesehatan.


Distribusi sebaran kasus malaria per desa di Kecamatan Nangaroro tahun 2012 sampai 2014 secara umum menunjukkan bahwa kasus tertinggi terjadi di Kelurahan Nangaroro dan Desa Nataute.




Tahun 2012 desa dengan kasus malaria  cukup tinggi di Kecamatan Nangaroro adalah Kelurahan Nangaroro, Nataute, Wokodekororo dan Wokowoe. Desa Wokowoe dan WOkodekororo dijadikan wilayah HCI karena persentase kasus yang terjadi di wilayah tersebut di atas 5%. 18 desa  yang ada  di Kecamatan Nangaroro hanya 13 desa di tahun 2012 yang mengalami kasus malaria.



Berbeda dengan tahun 2012, di tahun 2013 hanya 6 desa yang mengalami kasus malaria. Meskipun demikian peningkatan kasus di 6 desa tersebut patut di waspadai karena ada peningkatan yang cukup jauh di desa Nataute mencapai 16,76% meningkat 50% di bandingkan tahun sebelumnya.


Tahun 2014 terjadi peningkatan kasus yang sangat besar jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah desa positif baru meningkat menjadi 12 desa dari yang sebelumnya hanya berjumlah 6 desa. Sementara itu Desa Nataute terus mengalami peningkatan API menjadi 32,39%. Status desa Nataute sudah berada di garis merah sebagai desa sebaran malaria tinggi.



Grafik distribusi API dan ABER di Kecamatan Nangaroro menggambarkan fluktuasi kasus malaria di wilayah tersebut selama 3 tahun dari tahun 2012 sampai tahun 2014. Kelurahan Nangaroro dan Desa Nataute mengalami peningkatan nilai API yang cukup signifikan beberapa tahun terakhir, hal itu di tunjukan juga dengan perbandingan ABER di tahun tersebut yang juga menurun. Kegiatan pelacakan kasus aktif yang sangat kecil akan menyebabkan semakin sedikitnya kasus positif yang ditemukan di suatu wilayah.

A.                KORELASI FLUKTUASI PERUBAHAN API DAN ABER DENGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PROJECT INTENSIFIKASI MITIGASI        PENYAKIT MALARIA DI KECAMATAN NANGARORO TAHUN 2011 –       2014
            Kegiatan – kegiatan yang dilakukan untuk memutus mata rantai penyakit malaria dilakukan oleh lembaga IMCF sesuai dengan rencana awal yang telah di paparkan sebelumnya. Jenis-jenis kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Indonesia Malaria Care Foundation (IMCF) di Kecamatan Nangaroro adalah
J    Sosialisasi pertama dengan  Camat, Kepala Desa,Dusun,RT  tentang          pengenalan lembaga
J        Pengambilan data (Profil desa,Geografi,Demografi,dll)
J        Sosialisasi
·         Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
·         Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
·         Malaria
·         Sosialisasi Tanaman Pengusir Nyamuk
·         Pembentukan Community Malaria Care (CMC)
J        Pelacakan Kasus Malaria
J        Pengerjaan SPAL dan Pembersihan Lingkungan
J        Roll Back To School
J        Pembagian Bactivecd
J        Pembagian Kelambu
J        Fogging
J        Indoor Residual Sprying (IRS)
            Catatan kegiatan tersebut di atas  disesuaikan dengan volume kegiatan dan luasnya wilayah sasaran di Kecamatan Nangaroro yang mencakup 18 desa dan 1 kelurahan. Menghubungkan korelasi antara tinggi nya kasus malaria sejak tahun 2012 sampai tahun 2014 dengan kegiatan yang dilakukan oleh lembaga IMCF dapat disimpulkan tentang kecilnya sumbangsi kegiatan project dalam menekan kejadian malaria di wilayah tersebut. Hal ini didasari oleh minimnya perhitungan jadwal yang akurat dengan pola peningkatan kasus malaria, dimana kegiatan dilakukan tidak dengan rencana jadwal yang disesuaikan dengan peningkatan kasus, sehinggat upaya pengendalian tidak sesuai dengan sasaran.
            Hal lain yang juga sangat mempengaruhi keberhasilan penekanan kasus malaria adalah advokasi kepada pemerintah dan bidan desa sebagai pelayanan dasar kesehatan di desa yang sebenarnya mampu penjadi informan utama setiap ditemukan positif kasus malaria tidak dilakukan, sehingga lembaga IMCF terlihat melakukan program pengendalian secara sepihak tanpa melibatkan pihak - pihak terkait program.
            Kurangnya advokasi dan gagal nya perencanaan program yang akurat untuk menempatkan lembaga IMCF sebagai faktor utama penekan kasus malaria di Kecamatan Nangaroro, membangun sebuah konsep baru berdasarkan refleksi kegiatan sebelumnya. Kegagalan lembaga dalam memberikan sumbangsi tepat terhadap penurunan malaria menjadikan devisi pengendalian malaria untuk merevisi dan menentukan program baru yang lebih baik dalam upaya penanganan penyakit malaria.

B.                RANCANGAN STRATEGIS PROJECT PROGRAM DAN SASARAN             WILAYAH BARU LEMBAGA IMCF TAHUN 2016 – 2020
          Pesatnya dinamika fluktuasi kasus malaria di Kecamatan Nangaroro sejak tahun 2012 – tahun 2014 menjadi bahan evaluasi taktis sebagai dasar utama membangun dan menentukan rancangan strategi baru dalam upaya menekan kejadian malaria di wilayah tersebut. Hal ini didasari atas hasil kegiatan sebelumnya yang belum menunjukkan kasil yang potensial terhadap penekanan kasus kesakitan malaria di Kecamatan Nangaroro. Mengingat besarnya kompleksitas masalah, devisi pengendalian malaria merangkum rancangan strategis dalam bagan pengendalian sebagai berikut   :

upaya pengendalian malaria hanya mencakup 3 model pengendalian utama sebagai berikut   :
©      Pelacakan Kasus Aktif
Kegiatan pelacakan kasus aktif mencakup MBS, malariometric survey dab beberapa kegiatan lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kasus sedini mungkin sebelum terjadi penularan lebih lanjut.
©      Pengendalian Lingkungan
Kegiatan pengendalian lingkungan merupakan satu kesatuan upaya pengendalian yang dilakukan untuk memodifikasi kondisi lingkungan sehingga mampu menekan populasi vektor penyakit malaria.
©      Sosialisasi dan Pemicuan Malaria
Konsen dengan kegiatan peningkatan pengatahuan masyarakat tentang bahaya penyakit malaria, tujuan kegiatan ini adalah perubahan pola perilaku masyarakat agar terhindar dari penyakit malaria.
           Namun ke 3 design umum kegiatan tersebut tidak akan berarti tanpa adaya peran serta dari lembaga maupun satu kesatuan struktur dalam kelompok yang lebih kecil, oleh karena itu upaya advokasi dilakukan dengan sasaran 3 objek penting sebagai berikut         :
J  Pemerintah Desa
J  Bidan Desa/ Tenaga Kesehatan Desa
J  Juru Malaria Desa
            Besar nya keberhasilan upaya pengendalian malaria dimanapun di Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh dukungan pihak terkait di atas, hal itu di dasari tingkat kedekatan akses dan tingginya kepentingan masyarakat dengan pihak-pihak terkait. Oleh karena itu Lembaga IMCF memandang perlu dilakukan advokasi yang lebih intens terhadap aspek penting tersebut diatas.
            Hasil evaluasi kasus tahun 2012 sampai tahun 2014 telah dengan jelas memperlihatkan pola perjalanan penularan malaria di Kecamatan Nangaroro, terutama di beberapa desa seperti Kelurahan Nangaroro, Nataute, WOkodekororo dan Wokowoe. FLuktuasi kejadian kasus yang meningkat tajam di musim penghujan dan menurun di musim kemarau menjadi indikasi berarti dalam penentuan kewaspadaan dini kepada aspek – aspek pengendalian yang telah di jelaskan di atas. Hal ini menjadi perhatian dikarenakan banyak upaya pengendalian yang dilakukan sebelumnya tidak tepat sehingga tidak mampu menurunkan kasus malaria.
            Penentuan kegiatan pengendalian yang tepat dengan durasi fluktuasi penularan tinggi menentukankeberhasilan dalam memutus mata rantai penularan malaria di Kecamatan Nangaroro di tahun yang akan datang. Semua aspek yang mampu memberikan kontribusi terhadap keberhasilan program akan di rangkul dalam satu badan tim yang solid, professional dan sesuai dengan bidang keahlian masing masing sehingga efektifitas program yang efisien mampu mencapai target Kecamatan Nangaroro Bebas Malaria Tahun 2030.

LEMBARAN PENGESAHAN

Demikian Laporan Revisi Program Malaria Tahun 2012 – 2014 di Kecamatan Nangaroro dibuat untuk dijadikan sebagai bukti pelaksanaan program malaria di Kecamatan Nangaroro. Laporan ini juga dibuat atas dasar kegiatan real di masyarakat dan hasilnya dapat di tinjau dan di intervensi secara langsung oleh pihak yang terkait.
Oleh karena itu pengesahan dan audit laporan dibutuhkan oleh program pengendalian malaria untuk dilakukan pihak managemen agar dapat dijadikan bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas pelayanan program lanjutan.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.